Selasa, 13 Januari 2009

Prospek Budidaya Gaharu Secara Ringkas

Sesuai dengan kondisi habitat alami, gaharu tumbuh baik pada dataran rendah hingga berbukit (< 750 mdpl). Jenis Aquilaria spp. tumbuh optimal pada jenis tanah Podsolik merah kuning, tanah lempung berpasir dengan drainase sedang sampai baik, iklim A-B, kelembaban 80%, suhu 22-28 derajat celsius, curah hujan 2000-4000 mm/th. Pohon gaharu tidak baik tumbuh di tanah tergenang, rawa, ketebalan solum tanah kurang 50 cm, pasir kwarsa, tanah dengan pH < 4.

Gubal dan kemedangan gaharu yang tadinya hanya didapatkan dari alam langsung sekarang sudah dapat dbudidayakan sebagaimana tanaman perkebunan/hutan tanaman lainnya. Penguasaan teknik rekayasa/ stimulasi pemunculan gubal gaharu memberikan peluang bagi pengusahaan dan budidaya pohon gaharu yang lebih menjanjikan, dari mulai penyemaian, pembibitan, , penyiapan lahan, penanaman, perawatan, rekayasa inokulasi (pemasukan jamur Fusarium pembentuk) dan pemanenan. Inokulasi dilakukan setelah pohon gaharu berumur 4-5 tahun. Dan setelah 1-2 tahun kemudian dapat di panen.

Penanaman pohon gaharu sebaiknya dilakukan secara tanaman sela dan berada di bawah naungan tegakan lain misal karet, sawit, durian dsb karena sifat permudaan gaharu yang bersifat toleran terhadap cahaya (butuh naungan). Jika ditanam secara monokultur dan tanpa naungan resiko kegagalan penanaman lebih tinggi.

Kebutuhan gaharu dunia sangat besar quota Indonesia 300 ton/tahun baru dapat dipenuhi 10 % inipun lebih banyak didapatkan dengan cara (illegal) dan ini berasal dari gaharu alam. Oleh karena peluang budidaya gaharu sangat prospektif.

(Cut Rizlani dan Aswandi)